Cerita-cerita dibalik SUMPAH PEMUDA 28 Oktober 1928!!

  • admin
  • 28/10/2014
  • Hari semangat hari pemuda, bangkit berdiri lawan semua rasa malas mu, saatnya kita brjalan di atas kemandirian !!! #SumpahPemuda

    Sejak duduk di Sekolah Dasar, kita udah tahu apa itu Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober. Jika pada 1908 timbul kesadaran untuk bangkit, pada 1928 muncul kesadaran untuk bersatu: bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu. Momen Sumpah Pemuda ini adalah momen kita untuk tidak lagi terpecah-pecah oleh rasa kedaerahan.

    Nah, tahu gak, sih, fakta-fakta yang sering terlewat saat dicetuskannya Sumpah Pemuda?

    1. Usia Pencetus Sumpah Pemuda Masih Muda


    Rata-rata baru masuk 20-an, banyak pula yang di bawah 18 tahundan penuh semangat. Mereka berasal dari berbagai latar belakang berbeda. Daerah asal mereka berbeda; suku mereka berbeda; pun agama mereka. Lantaran mengenyam pendidikan Belanda, mereka kebanyakan fasih berbahasa Belanda, selain bahasa daerah masong-masing. Hanya segelintir yang lancar bahasa Melayu, bahasa pergaulan masa itu. Pada 1920-an, para pemuda ini terkotak-kotak menjadi anggota berbagai perkumpulan yang bersifat kedaerahan.

    Misalnya, Jong Java, Jong Sumatra, Jong Bataks, Perkumpulan Kaoem Betawi, Sekar Roekoen Soenda, Jong Celebes, dan Jong Ambon. Dipengaruhi kepedihan kehidupan yang sama sebagai warga jajahan, timbul kesadaran pergerakan mereka harus bersifat nasional. Mereka mulai bicara soal persatuan dan kemerdekaan. Sebagai pencetus, mahasiswa Indonesia di Belanda, yang antara lain Muhammad Hatta, menelurkan Manifesto Politik pada 1925. Isinya, untuk pertama kali para pemuda bicara tegas tentang kemerdekaan, persamaan, dan persaudaraan di antara sesama warga jajahan, maka orientasi kedaerahan mulai ditinggalkan

    2. Keisengan Para Pencetus Sumpah Pemuda


    Jahil? Iya. Nah, nggak nyangka kan kalau para pemuda pencetus Kongres Pemuda II punya sifat jahil. Ceritanya begini. Para pencetus Sumpah Pemuda, yang umumnya mahasiswa, banyak tinggal di rumah kos-kosan di Jalan Kramat 106 yang kini disebut Museum Sumpah Pemuda.

    Saban malam, para mahasiswa berdiskusi tentang berbagai hal. Kalau sudah larut malam, biasanya pukul 1, saat sudah capek diskusi, para mahasiswa mengumpulkan uang buat cari kopi plus sate atau cari soto ke Pasar Senen. Acara diskusi pun berubah dari yang berat-berat ke yang ringan, lebih mendekati soal-soal yang biasanya dekat ke hati pemuda, kata Abu Hanifah, seorang pelaku Sumpah Pemuda pada 1977 di majalah Prisma. Yah, tak jauh soal wanita yang ditaksir seperti obrolan pemuda sekarang.

    Kalau kebetulan ada ujian, diskusi dan perdebatan berhenti. Semua masuk kamar, belajar. Biasanya, kira-kira pukul 12 malam, setelah lelah belajar, mulai kembali terdengar bunyi-bunyian. Amir Sjarifudin melepaskan capek dengan menggesek biolanya, memainkan gubahan Schubert atau sonata yang sentimentil. Abu Hanifah mengambil biola, memainkan lagu yang sama. Suara biola bersahut-sahutan. Kemudian terdengarlah Muhammad Yamin beteriak, meminta Amir dan Abu diam. Yamin sedang dikejar deadline mengerjakan terjemahan Rabindranath Tagore untuk Balai Pustaka. Dasar jahil, bukannya diam, Amir malah makin asyik menggesek biola, sehingga Yamin teriak-teriak. Amir dan Abu ketawa terbahak-bahak.

    3. Mengakali Polisi Belanda


    Sabtu, 27 Oktober 1928. Jarum jam menunjukkan pukul 19.45 ketika Soegondo Djojopoespito membuka Kongres Pemuda II. Soegondo pemimpin rapat yang tangkas dan banyak akal. Perlu diketahui, yang ikut rapat bukan cuma para pemuda, tapi juga diawasi langsung polisi Belanda. Pada satu kesempatan, polisi Belanda protes karena peserta rapat menggunakan kata merdeka, hal yang dilarang ketika itu.

    Soegondo kemudian berkata, Jangan gunakan kata kemerdekaan, sebab rapat malam ini bukan rapat politik dan harap tahu sama saja. Hal itu disambut tepuk tangan riuh dan tawa hadirin.

    Memang ada-ada saja trik kaum pergerakan kala itu mengakali polisi Belanda. S.K. Trimurti, salah satu tokoh pergerakan masa itu menulis sebuah cerita unik di buku Bunga Rampai Soempah Pemoeda (Balai Pusatka, 1978). Tulisnya, ada trik khusus agar rapat organisasi pemuda yang dianggap radikal oleh Belanda tidak dibubarkan paksa polisi. Suatu ketika, para pemuda hampir ditangkap polisi karena menggelar rapat, tapi akhirnya lolos. Kok bisa? Jadi, ketika polisi hendak menggrebek, para peserta rapat berganti sikap. Rapat yang serius berganti jadi acara tari-menari dansa-dansi. Musiknya, cukup pakai mulut saja menirukan suara gamelan.

    4. Lagu Indonesia Raya Tanpa Syair


    Semua orang pasti tahu saat Sumpah Pemuda untuk kali pertama diperdengarkan lagu yang kemudian jadi lagu kebangsaan kita: Indonesia Raya. Tapi pernahkah kita bertanya, kenapa saat itu tidak dinyanyikan lagu Indonesia Raya lengkap dengan syairnya?

    Well, jawabnya masih ada hubungan dengan larangan polisi Belanda untuk menyebut kata merdeka dalam rapat. Maka yang terjadi, Minggu, 28 Oktober 1928, jelang penutupan rapat, seorang pemuda langsing bernama W.R. Soepratman menenteng biola mendekati pemimpin rapat Soegondo menyerahkan secarik kertas berisi syair lagu yang digubahnya.

    Menangkap judul Indonesia Raya dan begitu banyak kata merdeka dan Indonesia di situ, Soegondo langsung melirik polisi Belanda yang tekun mengawasi kongres. Soegondo khawatir rapat bisa dibubarkan paksa bila lagu itu diperdenarkan lengkap dengan syairnya. Ia membolehkan Soepratman memainkan lagunya tapi tanpa syair. Musik itu berakhir dengan tepuk tangan panjang. Bis, bis, bis, lagi, lagi, teriak hadirin.

    5. W.R. Soepratman, Hidupnya Tanpa Cinta


    Musisi dan cinta seharusnya berkait erat. Tapi entah mengapa, W.R. Soepratman meninggalkan misteri seputar kehidupan cintanya. Soperatman dikenal sebagai wartawan yang suka bermain music dan kongko-kongko dengan para pemuda di markas Perhimpunan Pemuda Pelajar Indonesia di Kramat Raya 106. Ia mengenal music sejak usianya 11 tahun. Pada 1938, ia pernah dibui Belanda. Usai dibebaskan, Soepratman sakit-sakitan.

    Dalam kondisi kian hari kian parah, ia ditemani Kasan Sengari, iparnya, dan Imam Supardi, Pemimpin RedaksiPenyebar Semangat. Kepada Imam, Soepratman curhat bahwa hidupnya tidak bahagia karena percintaan. Soepratman memang tidak menikah. Tapi Imam tidak menanyakan lebih lanjut, khawatir karibnya makin sedih.

    Dalam catatan Kuisbini, karib sesame komponis, Soepratman kerap datang ke warung Asih di Kapasari atau warung Djurasim di Bubutan, Surabaya, untuk menghibur diri membunuh sepi. Namun di warung itu pun ia Cuma melamun ditemani kue dan secangkir kopi. W.R. Soeprratman menutup rahasia hidupnya dalam Taman Asmara, tulis Kusbini suatu kali. Taman Asmara adalah istilah Kusbini untuk patah hati sahabatnya. Sayang hingga akhir hayatnya, Soepratman meninggal tengah malam 17 Agustus 1938, persoalan cinta itu tetap jadi teka-teki hingga sekarang.

    6. Naskah Sumpah Pemuda Ditulis Satu Orang

    Bagaimana ceritanya para pemuda bisa bersumpah di hari bersejarah itu? Begini kejadiannya. Rumusan Sumpah Pemuda itu ditulis Muhammad Yamin sendirian di sebuah kertas.

    Ketika Mr. Sunario, sebagai utusan kepanduan tengah berpidato di sesi terakhur kongres. Sebagai sekretaris, Yamin yang duduk di sebelah kiri ketua menyodorkan secarik kertas pada Soegondo sembari berbisik, Saya punya rumusan resolusi yang elegan. Soegondo lalu membaca usulan resolusi itu, memandang Yamin. Yamin tersenyum. Spontan Soegondo membubuhkan paraf setuju.

    Soegondo lalu meneruskan kertas ke Amir Sjarifudin. Dengan muka bertanya-tanya, Amir menatap Soegondo. Soegondo membalas dengan anggukan. Amir pun memberi paraf setuju. Begitu seterusnya sampai seluruh utusan organisasi pemuda menyatakan setuju.

    Sumpah itu berbunyi:
    Pertama : Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
    Kedoea : Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
    Ketiga : Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.
    Sumpah itu awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang lebar oleh Yamin. Setelah disahkan, ikrar pemuda itu jadi tonggak bersatunya bangsa Indonesia.

    Info terkait:

    • Poster sumpah pemuda
    • contoh pentas seni sederhana
    • Syair baridin
    • karikatur sumpah pemuda
    • contoh diskusi bahasa sunda
    • naskah drama sumpah pemuda 4 orang
    • Diskusi bahasa sunda
    • contoh karangan sumpah pemuda
    • doodle sumpah pemuda
    • naskah drama sumpah pemuda 28 oktober 1928

    Leave a Reply