Ini dia CITA-CITA anak kecil KHAS 90-an, apakah pilihan anda termasuk??

  • admin
  • 26/01/2016
  • Anak-anak selalu melihat di sekitarnya secara mentah-mentah! Tapi itulah yang menarik dari usia jagung. Setiap aktivitas layaknya di panggung dengan imajinasi ideal yang tak pernah nanggung. Ini mempengaruhi fantasi masa depan yang terlihat menyenangkan. Entah mengapa juga, manusia disarankan untuk menyusun cita-cita sedari dini.

    Jangan-jangan, ini semua hanya karena tugas membuat daftar cita-cita dari bapak atau ibu guru semasa duduk di bangku sekolah dasar. Jika tak ada tugas itu, mungkin saja kita semua tak pernah kenal dengan yang namanya cita-cita. Tapi yang namanya anak-anak, tak akan pernah lelah untuk membangun dunianya sendiri. Dunia yang kadang-kadang mengagetkan jika kita mencoba untuk menempelkannya begitu saja, di hari ini, ketika pikiran sudah tak sejernih saat itu. Misalnya saja

    1.Sekolah yang pinter biar jadi dokter. Padahal, masuk jurusannya aja setengah mati, belum biaya kuliahnya yang begitu tinggi.

    Memang, dokter adalah cita-cita mulia yang diidamkan anak-anak kebanyakan. Personanya memancar suci seiring kilau baju putih dari balik ruang praktek sehari-hari. Terlebih lagi, ketika ditambahiming-imingbahwa dokter adalah pekerjaan baik hati yang menyelamatkan banyak orang. Ya, setidaknya itu semua bertahan sampai kelas 2 SMA. Saat kawan-kawan mulai riuh membicarakan jurusan kuliah, departemen kedokteran menduduki grade tertinggi yang sulit ditembus. Pikiran menjadi realistis meski tetap optimis. Akhirnya tembus! Huray! Namun sayang belum selesai. Perkuliahan ditempuh sangat melelahkan, bahkan selepas wisuda, masih haruscoassselama waktu tertentu. Belum lagi, masih harus ambil spesialis. Biaya menumpuk selangit, sainganpun begitu banyak. Memang, imajinasi lebih ideal dari kenyataan sehari-hari.

    2. Sejak kecil sudah merentangkan tangan demi merasakan sensasi terbang. Beranjak dewasa baru sadar, sekolah pilot itu mahal dan susah masuknya.

    Om,besk kalau udah gedhe aku mau jadi pilot

    Ohya, semangat yaa

    *Om-nya cengar-cengir karena dia pilot.

    Terbang memang impian semua orang, melihat jauh di balik awan. Sebenarnya sih karena cuma penasaran apa yang ada di atas sana. Tapi dasar anak-anak, rasa ingin tahu tak pernah terbentung sempurna. Setelah dewasa, cari tahu sekolah pilot komersil, langsung bungkam. Biaya mahal, pendidikan semi-milier, belum lagi terbentur masalah fisik. Entah gigi ompong atau kakinya yang kependekan. Memang sih, semua butuh perjuangan, tapi kalau kenyataannya susah betul? Apa yang harus direnungi? Kekecewaan menggantung cita-cita yang terlalu tinggi? Masa depan memang begitu kabur, Nak. Tak apa, yang penting sudah pernah membayangkan. Itu cukup. Nabung yang banyak, biar tetap bisa terbang, meski cuma duduk di kabin penumpang.

    3. Waktu kecil bangga ikut pawai pakai seragam Polisi. Sudah besar mikir-mikir : mmm jadi polisi enggak ya?

    Dulu sih bahagia ikut pawai kampung acara tujuh belasan. Bangun pagi, baju seragam disiapkan, sarapan sudah di meja. Gagah berani mengenakan pakaian kebesaran polisi. Sampai saat itu, keyakinan untuk berkarier di kepolisian masih menggebu-gebu. Tapi, seiring berjalannya cuaca, hasrat itu perlahan hilang entah ke mana. Akademi Kepolisian membuatmu mundur pelan-pelan. Apalagi ketika melihat polisi yang bertugas di jalanan waktu liburan menjelang. Dalam hati berkata bahwa dirimu akan bertugas di kala liburan. Dan banyak cerita lain yang kamu dengar, yang membuatmu enggan melanjutkan mimpi tujuh belasan.

    4. Apalagi Tentara dengan corengan di muka dan memegang senjata. Tapi begitu dengar cerita dari barak, langsung mundur teratur : Gak jadi!

    Sempat terpikir untuk masuk tentara dan menjadi pejuang bangsa. Inilah hasil dari pendidikan sejak dini soal kebanggaan terhadap keutuhan negara. Apalagi di zaman doraemon dulu, kisah-kisah soal kecanggihan tank dan cerita heroisme perang semakin membuat anak-anak tak sabar ingin ikut latihan kemiliteran di lembah tidar. Tapi apa daya, bayang-bayang itu musnah seiring tugas berat yang bertengger di pundak tentara begitu besar. Tak sembarang orang dapat menjadi bagian dari pasukan pemberani pembela tanah air. Konsistensi tinggi, tahan tekanan, dan sanggup hidup dalam keadaan paling mengerikan. Sedangkan dirimu? Ditolak gebetan 7 kali aja nangisnya berhari-hari. Padahal, tentara dituntut untuk tangguh tak meratapi kondisi diri.

    5. Tak habis pikir, kenapa anak-anak pada pengen jadi Presiden.Apakah melambaikan tangan di depan khalayak sebegitu menariknya?

    Polisi, dokter, dan tentara dilekati nilai-nilai mulia yang tak terbantahkan (setidaknya bagi anak-anak). Nah, ini yang tertinggi dan bakal menjadi bos dari segala profesi. Presiden tetap menjadi idola anak-anak karena dipikirnya, dia adalah orang nomor satu di Negara, bukan Syahrini atau Syaiful Jamil. Wibawa dan kharismanya membuat anak-anak meleleh dan ingin segera berada di posisi itu demi kebahagiaan orangtua. Padahal semakin ke sini, presiden akan semakin terasa sebagai sebuah kemustahilan yang paling absolut. Masih bertanya kenapa? Atau jangan-jangan, masih adakah yang ingin jadi presiden? Jika iya, kami sarankan untuk mulai puasa saat ini juga.

    6. Nah kalau yang ini masih agak masuk akal. Pengen jadi Astronot, melihat ruang angkasa. Padahal, begitu dewasa, lari dikit aja megap-megap.

    Memang masuk akal, sebab ruang angkasa selalu menjadi topik yang seksi bagi anak-anak. Apalagi ketika ingat film Petualangan Sherina, waktu Sherina menyebut nama-nama bintang : Canopus, Capela, Vega. Imajinasi langsung terlantar begitu saja menyambangi galaksi. Nah, aktivitas melamun macam itulah yang mendorong rasa penasaran seorang bocah akan wujud dari dunia di atas langit. Jadilah astronot mulai dipilih sebagai cita-cita masa depan. Saat itu belum terbayang soal latihan fisik, adaptasi udara, dan penyesuaian atmosfer. Makanya tiada keraguan untuk menyantap gorengan tiada batas, dan begadang yang tak pernah tuntas. Alhasil, badan tak sehat, lunglai dan tak lagi sanggup mengikuti serangkaian seleksi untuk naik ulang-alik. Inilah kemustahilan berikutnya setelah menjadi presiden.

    7. Kalau anak sok cerdas, pasti pengen jadi Professor. Begitu kuliah, malah dikerjain sang professor. Orangtua makin tekor.

    Ada yang masih ingat kuis Galileo Galilei? Nah, itulah kuis paling hits kala itu yang ingin membuat setiap anak di Indonesia, menjadi ilmuwan kenamaan. Bayangannya adalah bekerja di lab dengan penuh ramuan; mengenakan kacamata trendi; dan jas lab yang mentereng. Di situ, akan ada penemuan fenomenal yang sangat berpengaruh bagi perkembangan pengetahuan. Benar saja, algoritma ditekuninya, geometri seperti di luar kepala, gerak lurus beraturan bukanlah soal. Dan masih banyak lagi. Begitu kuliah, skripsi malah terbengkalai, sebab dosen yang membimbing adalah seorang professor yang sedang sibuk di lab dan telah berada di dalam sana selama 2 tahun tanpa tersiram cahaya matahari. Luluh lantak.

    8. Sejak kecil ikutan lomba pragawan/prawagati. Pengennya jadi artis, tapi acting meyakinkan di hadapan calon mertua aja kelabakan.

    Sadar bahwa ilmuwan sulit digapai, maka dirimu mulai banting setir saat masuk bangku SMP. Ayah dan Ibu bahagia melihatmu melenggak-lenggok di atascatwalk.Dalam hati berkata bahwa dirimu mantap untuk menjadi artis di kemudian hari. Apalagi ketika sadar memiliki tampang yang lumayan. Namun ternyata tampang lumayan tak cukup untuk menjadi artis. Ada mental yang perlu diasah untuk menggila di panggung hiburan. Sayang, kamu mulai ragu akan kemampuanmu semenjak dibentak oleh calon mertua. Kamu tak kuasa untuk menguasai kondisi dan larut dalam situasi. Lalu kamu sadar, bagaimana bisa menguasai panggung dan layar kaca, kalau bertemunya saja mengakibatkan tubuh bergidik tak bergeming? Luluh lantak lagi. Sebuah kemustahilan yang lain.

    9.Besok gede pengen kayak Taufik Hidayat.Pas beneran udah gede, angkat kepala sendiri aja enggakkuat.

    Baiklah, mungkin menjadi olahragawan. Sejak kecil mulai ikut persatuan bulutangkis kompleks. Niatnya pengen latihan keras demi berkalung medali emas. Foto Taufik Hidayat terpampang di sebelah kaca. Jadi kalau lagi bercermin, sembari bisa mematut diri menyamakan prestasi. Memasuki SMA, mulai tahu yang namanya malam mingguan, pulang larut malam. Cepat lelah. Metabolisme terganggu. Tak ada pilihan lain, raket mulai digantung. Sepatu diberikan kepada tetangga yang memiki kesamaan mimpi. Hasrat lebih memilih untuk menjadi biasa saja karena ternyata menjadi olahragawan tak semudah update lokasi di sosial media. Semoga, tetangga tak tersentu aktivitas malam minggu sebelum jadi atlit ternama.

    10. menjadi seperti mama papa. Jika sudah begini, maka orangtua berhasil membuat anaknya tergiur untuk menjadi dirinya.

    Terakhir, sederhana tapi susah diwujudkan. Mimpi untuk menjadi seperti orangtua. Pertama, ini prestasi orangtua karena berhasil menjadi contoh baik. Kedua, ini juga kegagalannya karena tak mampu memberikan alternatif lain selain mereka berdua. Tapi mungkin juga, ini adalah mimpi anak-anak yang bereinkarnasi dari anak-anak masa lampau yang gagal jadi dokter; menyerah di dinasi ketentaraan; gantung raket di usia muda; dan tak minat jadi professor. Cerita itu masuk ke memorinya terdalam yang membuatnya untuk memilih cita-cita yang paling sederhana. Mungkin

    Gantung cita-cita setinggi langit memang baik, bahkan optimis adanya. Namun, yang lebih menyenangkan dari itu semua adalah sensasi kejutan yang ditimbulkan ketika sadar keadaan yang sebenarnya. Memang, kadang menyenangkan untuk sedikit tahu akan beberapa hal, supaya imajinasi tetap spesial dan tak menemukan jawaban.

    Info terkait:

    • persatuan bangsa tts
    • jawaban tts persatuan bangsa
    • tugas seorang artis
    • baju perjuangan wanita tempo dulu
    • pakaian untuk jalan sehat
    • baju untuk jalan sehat
    • wawancara tentang cita cita
    • gambar poster tentang cita cita
    • percakapan 2 orang tentang cita-cita
    • poster cita-cita