Ini dia resiko terbang dengan maskapai berharga MURAH / Low Cost Carrier!!

  • admin
  • 04/05/2014
  • Lemahnya regulator penerbangan dalam memberikan pendidikan kepada konsumen membuat konsumen penerbangan Indonesia menjadi bodoh sejak lahir dan pada akhirnya harus secara otodidak belajar sendiri, termasuk dalam memilih maskapai yang akan digunakan. Ini sebagai dampak jika Pemerintah, dalam hal ini Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementrian Perhubungan (DJU), tidak hanya sebagai regulator sesuai perintah UU No. 1 tahun 2009 tentang Penerbangan tetapi juga sebagai operator dan proyektor.

    Kekosongan pengetahuan konsumen penerbangan berakibat pada tingginya protes publik ke operator penerbangan, bandara, ground handling, petugas keamanan penerbangan dan sebagainya. Salah satu yang sering dikeluhkan oleh konsumen penerbangan adalah sering hangusnya tiket penumpang maskapai berbiaya murah (LCC) karena terlambat check in.

    Sering kita baca keluhan konsumen karena tiketnya hangus dan harus beli lagi kalau tetap mau terbang di kolom Surat Pembaca di berbagai media cetak, maki-maki di media sosial serta situs maskapai LCC, dan sebagainya dengan berbagai alasan yang sangat masuk akal. Untuk itu mari kita ulas sedikit prinsip-prinsip menjadi konsumen penerbangan LCC.

    1. Maskapai LCC lahir dengan meminimalkan pengeluaran yang tidak perlu tanpa harus mengurangi keselamatan dan keamanan penerbangan dan memaksimalkan pendapatan, misalnya mengurangi penggunaan agen perjalanan, mencetak boarding pass di kertas murah, harga tiket belum termasuk biaya bagasi dan makan/minum, harga tiket bisa berubah setiap menit, ruang kabin yang sempit karena dioptimalkan untuk sebanyak mungkin mengangkut penumpang, jika terlambat check in tiket hangus, semua pesawat harus beroperasi sehingga jika delay sangat lama.

    2. Keluhan masalah hangusnya tiket dan delay merupakan dua (2) persoalan yang sering diadukan ke operator penerbangan LCC. Secara internasional (baik untuk LCC maupun full service) loket check in harus ditutup 30 menit sebelum pintu pesawat ditutup. LCC sering memberlakukan 45 menit sebelum pintu pesawat ditutup. Jadwal yang tertulis di situs LCC atau tertera di boarding pass merupakan jam pintu pesawat ditutup dan pesawat di dorong mundur (push back) untuk siap-siap take off atau biasa disebut di dunia penerbangan dengan ETD (Estimated Time Departure).

    3. Jadi konsumen yang datang setelah menit ke 30 atau 45 (bisa dibaca di website masing-masing LCC) tiketnya sudah pasti hangus dan kalau tetap akan terbang harus beli tiket baru yang sudah pasti lebih mahal. Tiket hangus merupakan salah satu sumber optimalisasi pendapatan. Kasus ini merupakan kasus terbanyak. Jadi sekali lagi, jam penerbangan yang tertera di situs saat kita beli tiket online adalah jam pesawat tutup pintu untuk siap-siap di push back dan take off.

    4. Pesawat terbang bukan angkot yang setiap saat kita bisa masuk dan naik selagi belum berangkat. Sebelum take off, banyak hal yang harus dipersiapkan sesuai dengan peraturan keselamatan penerbangan yang dibuat oleh ICAO (International Civil Aviation Orgnization) dan DJU Kemenhub. Jadi amannya konsumen penerbangan domestik harus sudah melaporkan diri ke counter check in maskapai di bandara satu (1) jam sebelum pesawat tutup pintu.

    5. Sedangkan untuk persoalan delay di LCC yang sering di atas 3 jam karena alasan teknis disebabkan dalam bisnis LCC semua pesawat harus beroperasi penuh dan menyisakan sangat sedikit pesawat cadangan. Di maskapai LCC dalam satu hari setiap pesawat harus lepas landas dan mendarat di multi destinasi. Jadi ketika satu destinasi terlambat mendarat, misalnya karena cuaca buruk, maka rute selanjutnya pasti akan semakin terlambat, karena minimnya pesawat cadangan.

    Info terkait:

    • contoh pangalaman berharga sunda
    • lcc kepahlawanan
    • paguneman bahasa sunda tentang bulliying
    • soal dan jawaban dari low cost carrier
    • yel yel lcc sd
    • yel yel lcc sd lucu ngakak

    Leave a Reply