Kisah perjalanan ANDROID, dulu dicaci kini DICARI!!

  • admin
  • 06/05/2014
  • Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sistem operasi Android berhasil menguasai lebih dari 80% pasar smartphone di dunia. Tiga perempat dari seluruh smartphone yang dikapalkan di seluruh dunia adalah Android.

    Menurut data yang dirilis oleh International Data Corporation (IDC), totalnya ada sekitar 261,1 juta smartphone yang dikapalkan pada kuartal tiga 2013, dan 81 persennya menjalankan sistem operasi Android.

    Dari beberapa produsen smartphone yang merilis ponsel pintar berbasis Android, Samsung adalah yang paling banyak menguasai pasar. Produsen smartphone Samsung Galaxy S4 itu menguasai 39 persen pengapalan smartphone Android pada kuartal ketiga.

    Kehadiran Android bahkan membuat gusar Apple selaku pembuat sistem operasi iOS. Saat Google merilis Android, mendiang Steve Jobs — pendiri Apple — menganggap sistem operasi berlogo robot hijau itu meniru iOS.

    Menurut buku biografi Steve Jobs yang ditulis Walter Isaacson, Jobs disebutkan pernah mengumpulkan seluruh karyawan Apple di Town Hall yang ada di Apple Campus. Saat itulah Jobs melepas segala kemurkaannya kepada Android. Jobs bahkan bersumpah ingin menghancurkan Android karena dianggap sebagai produk curian.

    Kisah Di Balik Lahirnya Logo Android

    Nama besar Android sudah melekat erat dengan perusahaan teknologi raksasa Google. Sistem operasi Android kini telah memasuki versi ke sepuluh, dan yang terbaru adalah Android KitKat.

    Dalam hal logo, sistem operasi berlambang robot hijau ini ternyata terinspirasi dari sebuah hal sederhana. Logo Android ternyata terinspirasi dari tanda yang ditemui pada pintu toilet umum.

    Adalah Irina Blok, seorang graphic designer dan seniman, dialah sosok yang memiliki ide awal di balik pembuatan logo sistem operasi berlogo `robot hijau` itu. Irina dan tim desainer Google diminta untuk menciptakan logo untuk platform perangkat lunak untuk penggunaan mobile dan mengandung unsur robot. Irina pun mulai mempelajari sejumlah karakter dari film dan mainan ber-genre sci-fi dan segala hal yang berhubungan dengan luar angkasa.

    Sayangnya upaya tersebut tidak juga memberikannya inspirasi. Hingga akhirnya ia pun mengaku jika simbol toilet pria dan wanita yang kerap ditemui saat hendak memasuki kamar kecil justru menginspirasinya menciptakan logo robot hijau.

    Ia pun mulai bermain dengan gambar perumpamaan pria dan wanita dengan menambahkan sebuah antena di bagian atas kepala. Tim desainer lainnya kemudian memutuskan untuk memungkinkan penggunanya bisa mendandani sang `robot hijau` sesuai selera masing-masing, layaknya sistem operasi Android yang bersifat open source.

    Kemungkinan pengguna untuk mengkostumisasi logo Android secara tidak langsung juga memudahkan pengguna mengingat robot hijau sebagai sebuah sistem operasi perangkat pintar. Sejak saat itu logo Android pun kerap dimodifikasi dengan beragam kostum, warna dan aksesoris lainnya – termasuk dimodifikasi menjadi robot cokelat besar untuk versi teranyar KitKat.

    Berikut logo yang berhasil menginspirasi Irina hingga kemudian melahirkan logo Android.

    Dalam sesi wawancara dengan New Tork Times, Irina menyebut kunci utama dalam membuat logo yang dapat dikenang terletak pada kesederhanan dan sifatnya yang abadi. Dua hal tersebut merupakan yang paling sulit untuk dicapai.



    Sosok di Balik pencipta Android

    Sosok penting yang menciptakan Android adalah Andy Rubin. Dia lahir pada tahun 1962, dibesarkan di Chappaqua, New York. Rubin adalah putra dari seorang psikolog yang kemudian mendirikan perusahaan direct marketing sendiri.

    Rubin mengawali karir engineering-nya di bidang robotik, passion-nya adalah membangun mesin pintar (intelligence machines). Sebelum bergabung dengan Apple, Rubin awalnya bekerja sebagai manufacturing engineer pada tahun 1990-an. Dia bekerja untuk perusahaan manufaktur Jerman bernama Carl Zeiss sebagai robotic engineer.

    Pada Oktober 2003, Rubin mendirikan Android, Inc. di Palo Alto, California, bersama rekannya yang lain yaitu Rich Miner, Nick Sears, Chris White. Awalnya mereka berencana mengembangkan sebuah sistem operasi canggih untuk kamera digital, namun akhirnya mereka sadar bahwa pasar kamera digital tidak cukup besar. Mereka berubah haluan memproduksi sistem operasi untuk smartphone yang memang tengah naik daun saat itu.

    Andy Rubin dikenal sebagai tukang oprek yang menyenangi hal-hal canggih. Saking geek-nya, menurut New York Times, rumah Rubin dilengkapi beragam peralatan canggih. Misalnya, untuk masuk ke rumah Rubin tak menggunakan kunci. Ia hanya perlu memindai (scan) retina matanya ke sebuah alat pemindai. Jika retina Anda sesuai, maka kunci rumah akan terbuka secara otomatis.

    Home theater system di rumahnya juga dibuat secara canggih. Di halaman rumahnya terdapat sejumlah mainan helikopter yang telah dia program untuk terbang secara otomatis.

    Android Inc. kemudian diakuisisi oleh Google pada Agustus 2005. Sejumlah orang inti di Android Inc., termasuk Rubin, Miner, dan White, tetap tinggal di perusahaan itu pasca diakuisisi. Di Google, tim tersebut dipimpin oleh Rubin untuk mengembangkan sebuah platform perangkat mobile yang berbasis kernel Linux. Google kemudian memasarkan platform tersebut ke para pembuat handset dan operator, dan berjanji akan menyediakan sistem yang fleksibel dan mudah di-upgrade.

    Sejak Android dibeli Google pada tahun 2005, Andy Rubin dianggap sebagai orang yang tepat untuk memimpin pengembangan sistem operasi robot hijau itu. Di bawah kepemimpinan Rubin, Android kini menjadi sistem operasi yang menguasai lebih dari separuh pangsa pasar smartphone di dunia. Tak heran jika Rubin juga menjadi salah satu eksekutif Google yang paling dikenal.

    Namun pada bulan Maret 2013, Andy Rubin mundur dari jabatannya sebagai bos Android di Google. Tapi Rubin masih bertahan di Google dan kabarnya ia akan fokus mengerjakan proyek masa depan yang terkait dengan robotik, bidang yang memang ia sukai.

    Perjalanan Sukses Android Menggeser BlackBerry dan iOS
    Tahun 2003

    Android mulai berdiri menjadi sebuah perusahaan pada tahun 2003. Perusahaan itu didirikan oleh Andy Rubin dan beberapa orang terkenal lainnya yang punya nama besar di dunia teknologi mobile. Android awalnya dirancang untuk sistem operasi kamera digital, namun kemudian diubah menjadi sistem operasi untuk smartphone.

    Tahun 2005

    Google membeli perusahaan Android Inc. Andy Rubin dan timnya pun ikut ditarik Google untuk membuat sistem operasi Android bisa berjalan di perangkat ponsel pintar (smartphone).

    Tahun 2008

    Google menggandeng operator T-Mobile meluncurkan smartphone pertama berbasis sistem operasi Android bernama G1. Handset tersebut dibuat oleh vendor asal Taiwan, HTC, yang juga diberi nama HTC Dream.

    Tahun 2009

    Android kemudian tumbuh pesat pada bulan November 2009 dengan meluncurnya Motorola Droid. Smartphone buatan Motorola dengan sistem operasi Android 2.0 Donut itu dipasarkan lewat operator Verizon.

    Kala itu, Android mendulang panen besar karena Verizon memasarkannya secara eksklusif disebabkan Verizon tak memasakan iPhone. Belum lagi, handset itu diklaim mendorong tren yang berbeda dengan smartphone besutan Apple, hadirnya keyboard fisik di Motorola Droid.

    Tahun 2010

    Pada Januari 2010, Google meluncurkan smartphone pertamanya bernama Nexus One. Perusahaan situs mesin pencarian itu berusaha untuk menyetir tren pasar pada model baru dengan berbagai fitur canggih di dalamnya.

    Nexus One dipasarkan dengan harga USD 529 atau sekitar Rp 5,3 jutaan. Sayangnya, penjualannya yang kurang baik membuat Google menghentikan produksinya tak lama setelah peluncurannya di bulan Juli 2010.

    Meskipun Nexus One gagal di pasaran, tahun 2010 tetap dianggap sebagai tahunnya Android. Samsung yang pertama kalinya memperkenalkan smartphone Galaxy S mendapat sambutan yang baik dari pasar dan membuatnya populer dengan cepat. Perusahaan asal Korea Selatan itu hingga saat ini telah menjual lebih dari 100 juta unit smarpthone keluarga Galaxy.

    Namun, HTC tak mau membiarkan Samsung tampil menarik sendirian di pasaran. Perusahaan asal Taiwan itu meluncurkan EVO 4G pada bulan Juni di tahun yang sama. Handset itu digadang-gadang sebagai alternatif terbaik dari smartphone ikonik buatan Apple, iPhone.

    Pada tahun 2010, Android juga berhasil menggeser iOS yang dipakai iPhone di pasar Amerika Serikat. Saat itu, Research in Motion (RIM) dengan BlackBerry OS masih bertahan menjadi penguasa di pasar smartphone global.

    Google kembali mencoba peruntungannya dengan meluncurkan produk smartphone berlabel Nexus. Namun, perusahaan asal Mountain View itu menggandeng Samsung untuk membuatkan smartphone dengan nama Nexus S. Handset tersebut tak berbeda jauh dengan desain yang dipakai pada Galaxy S, pembeda utamanya adalah sistem operasi Android 2.3 Gingerbread yang pertama kali digunakannya.

    Tahun 2011

    Tak puas di pasar smartphone, Google mulai merambah ke pasar tablet dengan Android 3.0 Honeycomb pada awal tahun 2011. Sayangnya, penjualan Motorola Xoom yang jadi pionir jajaran tablet berbasis Android Honeycomb kurang baik diterima pasar.

    Laju Android terus melesat. Di tahun 2011, Google berhasil mengalakkan RIM melalui Android. Android melewati pangsa pasar milik BlackBerry di pasar AS tahun 2011. Sejak saat itu, pangsa pasar BlackBerry terus merosot dan tergerus oleh Android dan iOS.

    Perubahan terbesar di Android terlihat mencolok pada November 2011 ketika Android 4.0 Ice Cream Sandwich (ICS) digulirkan. versi baru Android itu dibuat dengan merek dan tampilan baru. ICS dibuat untuk bisa dipakai pada perangkat smartphone maupun tablet.

    Di waktu yang bersamaan, Samsung mulai meluncurkan kampanye pemasaran besar-besaran untuk menyerang Apple. Sejak saat, Samsung telah mengeluarkan uang puluhan milyar dolar untuk menjaring pasar. Usahanya tak sia-sia, perusahaan itu sukses menjadi perusahaan pembuat smartphone terbesar di dunia dan menjadi produsen ponsel Android paling populer.

    Tahun 2012

    Tapak kaki Samsung dengan Android semakin kuat di pasar smartphone. Samsung melahirkan Galaxy S3 di tahun 2012 yang menjadi salah satu smartphone paling laris di pasaran hingga saat ini.

    Musim panas tahun lalu, Android meluncurkan versi terbaru yang dikenal sebagai Android 4.1 Jelly Bean. Google menambahkan kekuatan di dalamnya dengan kehadiran Google Now, asisten virtual yang bisa menampilkan suara yang diklaim lebih baik dari Siri iPhone. Jelly Bean terus dikembangkan hingga versi 4.3.

    Pendekatan sangat baik yang dilakukan Google pada Android diakui banyak pihak lebih baik dibandingkan Apple pada iOS. Pembuat hardware bisa menggunakan Android dengan gratis di berbagai produk buatannya, ini tidak terjadi di iOS yang dilabeli `eksklusif` oleh Apple.

    Google yang juga memberikan dukungan seperti layanan Gmail, Google Now, dan Google Maps membuat para pembuat hardware lebih enak menggunakan platform buatan Google itu. Banyak produsen yang akhirnya rela menggunakan platform robot hijau, bahkan para pembuat perangkat ponsel dengan harga murah.

    Kini, smarpthone dan tablet yang berjalan di atas sistem operasi Android sudah sangat membanjiri pasar. Berbagai platform mobile yang ada di pasaran seperti Windows Phone, BlackBerry, Bada, Symbian hingga iOS harus rela berada di bawah Android di urutan penguasa pasar platform mobile.

    Alasan Di Balik Penggunaan Nama-nama `Dessert` Pada Android

    Ada yang menarik dari tradisi penamaan setiap versi sistem operasi Android. Google selaku pihak pembesut selalu menggunakan nama-nama makanan penutup (dessert) pada setiap versi Android. Apa sebenarnya yang ingin disampaikan Google dengan menggunakan nama-nama makanan penutup tersebut?

    Menurut laporan yang dilansir laman CNN, juru bicara Google Randall Safara pernah menjelaskan bahwa sebenarnya pemilihan nama makanan tersebut tidaklah sembarangan, namun juga didasari dengan kaidah urutan abjad atau alfabetis. Seperti contohnya, Cupcake (C), Donut (D), Eclair (E), Froyo (F), Gingerbread (G), HoneyComb (H), Ice Cream (I), Jelly Bean (J) dan yang terbaru adalah KitKat (K).

    Namun bila melihat penjelasan tersebut, maka ada sesuatu yang janggal. Abjad A dan B hilang dari urutan nama-nama versi Android.

    Mengenai permasalahan itu, Safara menerangkan bahwa sebenarnya abjad (A) dan (B) pernah digunakan sebagai nama dua versi Android generasi pertama. Namun karena masalah merek dagang, maka kedua versi tersebut batal dipublikasikan.

    Lebih lanjut ia menjelaskan, huruf (A) mewakili Android 1.0 Astro Boy dan huruf (B) digunakan pada update Android 1.1 Bender. Akan tetapi dikarenakan terjadinya protes dari perusahaan yang terlebih dahulu menggunakan merek dagang nama itu, maka Google memutuskan untuk tidak menggunakannya.

    Namun penjelasan berbeda diungkapkan oleh Jean-Baptiste Queru, Dianne Hackborn dan Romain Guy selaku teknisi dan desainer Android. Pada sebuah sesi wawancara dengan situs Know a Head, mereka menceritakan bahwa Android 1.0 memang sengaja tidak diberikan nama, sementra update Android 1.1 mengusung naman Petit Four.

    Hal ini jelas membantah teori urutan abjad yang diungkapkan oleh Randall Safara. Hingga kini, pihak Google sendiri belum pernah sekalipun secara gamblang menjelaskan apa tujuan mereka menggunakan nama-nama makanan penutup tersebut pada sistem operasi mobile andalannya. Praktis hanya hasil wawancara dengan Randal Safara dan ketiga teknisi Android tersebut yang dapat sedikit memberi petunjuk.

    Di sisi lain, Director of Android Global Partnership John Lagerling sempat mengatakan bahwa pemilihan nama tersebut hanya bertujuan agar mudah diingat oleh orang banyak. Ia berfilosofi bahwa nama-nama makanan penutup adalah hal `ringan` yang mudah diingat dan digemari oleh berbagai segmen usia. Demikian yang dilansir laman BBC.

    Pesatnya pertumbuhan ekosistem aplikasi Android
    Untuk urusan ekosistem aplikasi, Android bersaing ketat dengan sistem operasi iOS besutan Apple. Di tahun 2008, bersamaan dengan dirilisnya sistem operasi Android, Google menyediakan fasilitas toko aplikasi Android Market agar para penggunanya dapat mengunduh dan mendapatkan update aplikasi yang digunakan. Namun terhitung pada 2012, Google mengganti nama Android Market menjadi Google Play Store.

    Pertumbuhan awal ekosistem aplikasi di era Android Market terhitung cukup lambat. Namun sejak 2010, seiring dengan meningkatnya popularitas Android, ekosistem aplikasi di Google Play Store turut bertumbuh pesat.

    Sebagai gambaran, laman Cnet melansir bahwa pada Desember 2009, satu tahun setelah Android Market resmi dirilis, jumlah aplikasi yang ada baru menyentuh angka 16 ribu aplikasi. Namun pada 2010 jumlah aplikasi yang ada sudah mencapai angka 100 ribu aplikasi.

    Di tahun 2012, jumlah aplikasi di Google Play Store semakin bertumbuh pesat. Saat itu, pengguna Android sudah dimanjakan dengan kehadiran lebih dari 700 ribu aplikasi. Di tahun 2013 kemarin, Google bahkan mengumumkan bahwa toko aplikasi besutan mereka itu telah mencapai angka lebih dari 1 juta aplikasi.

    Keungulan toko aplikasi Android didukung oleh sifat dasar Android yang merupakan sistem operasi berbasis Linux (Open Source). Arsitektur Open Source memungkinkan pihak ketiga — pengembang aplikasi — untuk secara bebas mengembangkan aplikasi-aplikasi dalam bahasa pemrograman Java dengan menggunakan kit pengembangan perangkat lunak Android (SDK).

    Menariknya lagi, situs Mashable sempat melaporkan bahwa dari sekian banyak aplikasi yang tersedia, lebih dari setengahnya tidak berbayar. Menurut data yang dikeluarkan perusahaan riset Distimo, pada Juni 2013, 57% aplikasi di Google Play Store adalah aplikasi tak berbayar alias gratis.

    Meski lebih didominasi aplikasi gratis, tidak berarti toko aplikasi Google PlayStore tidak mendatangkan keuntungan bagi para pengembang. Keuntungan tersebut datang dari pengiklan yang dapat menyisipkan iklannya dalam aplikasi. Bila pengguna aplikasi mengklik iklan tersebut, pengembang bisa mendapat keuntungan sekitar 0,01 0,05 USD. Untuk aplikasi berbayar, Google menerapkan kebijakan pembagian keuntungan sebesar 70% untuk pengembang dan 30% untuk Google.

    Meskipun begitu, menurut data yang dimiliki Business Insider, Google Play Store belum bisa lebih menguntungkan bila dibandingkan dengan Apple AppStore. Laporan VisionMobile menunjukkan pendapatan rata-rata yang bisa diperoleh developer dari aplikasi yang diluncurkan untuk sistem operasi Android US$ 4.700, sementara iOS US$ 5.200 per bulannya.

    Di Indonesia sendiri, pendiri komunitas ID-Android dan Gadtorade, Lucky Sebastian memperkirakan, dominasi sistem operasi Android di Indonesia sudah menembus di atas 60 persen. Hal ini bisa dilihat dari semakin banyaknya merek smartphone yang mengusung sistem operasi Android, baik merek global maupun lokal.

    Aplikasi yang Paling Banyak Diunduh di Google PlayStore

    Menurut hasil riset yang dirilis laman Phone Arena, aplikasi media sosial dan perpesanan instan memang menjadi yang paling digemari oleh para pengguna perangkat Android. Namun untuk urusan aplikasi yang paling banyak diuduh, justru jenis aplikasi yang lebih fungsional lebih favorit.

    Beberapa aplikasi gratis yang paling banyak diunduh adalah, Google Maps, Gmail, YouTube, Google Search dan Facebook. Sementara untuk aplikasi berbayar yang paling banyak diunduh adalah, Swiftkey Keyboard, Minecraft Pocket Edition, Where`s My Water, Asphalt 7: Heat dan Beautiful Widgets Pro.

    Selain aplikasi-aplikasi yang disebutkan di atas, aplikasi perpep]sanan instan BlackBerry Messenger (BBM) lintas platform merupakan salah satu aplikasi yang paling fenomenal di Google Play Store. Dari total 113 juta pengguna BBM yang diklaim BlackBerry, hampir 10 juta di antaranya hadir dari pengguna aplikasi BBM untuk Android.

    Info terkait:

    • aplikasi 17
    • apa itu aplikasi 17
    • aplikasi membuat tulisan metal di android
    • cara membuat tulisan metal di fb
    • cara membuat doodle di coreldraw
    • aplikasi pray for paris
    • ringtone oppo anak jalanan
    • edit foto bendera perancis
    • cara membuat tulisan metal lewat hp
    • Oke Google gitu

    Leave a Reply