Kumpulan gunung berapi yang masih AKTIF di tata surya!!

  • admin
  • 13/08/2015
  • Ternyata keberadaan gunung berapi bukan hanya terdapat di Bumi, namun juga di luar Bumi. Bahkan ada yang masih aktif hingga sekarang ini. Beberapa di antaranya memunculkan fenomena yang amat unik dan mengundang untuk diselidiki. Dalam hal ini, pengetahuan astronomi bertemu dengan geologi dan memunculkan cabang astrogeologi.

    Oke tanpa basa basi mari kita simak gunung gunung berapi nya gan

    1. GUNUNG BERAPI DI VENUS


    Venus, planet yang punya banyak kemiripan dengan bumi, di mana temperatur permukaannya berada di sekitar 480 derajat celsius, tampaknya lebih mengerikan dibanding yang diketahui sebelumnya.
    Dari pengamatan terbaru yang dilakukan satelit ruang angkasa European, terhadap planet itu, terungkap bahwa Venus dipenuhi oleh gunung berapi aktif.
    Beberapa dari gunung-gunung berapi itu, kemungkinan saat ini masih tetap meletus. Jadi, secara geologis, planet itu sama sekali tidak mati. Ia akan terus aktif dan siap untuk meletus
    Sebagai gambaran betapa dahsyatnya letusan besar-besaran gunung berapi Venus secara pulsatik, mari kita bandingkan dengan letusan sejenis di Bumi. Letusan terdahsyat di Bumi adalah banjir lava basalt Siberia pada 250 juta tahun silam, yang memuntahkan maksimum 4 juta kilometer kubik magma.

    Lava basalt on siberia

    Dengan demikian volume banjir lava basaltik Venus setidaknya mencapai 40 juta kilometer kubik. Dengan suhu lava basaltik 1.300 derajat Celcius dan gravitasi permukaan venus adalah 0,9 kali gravitasi Bumi, maka banjir lava basaltik Venus melepaskan energi setidaknya 9.360 juta megaton TNT atau setara dengan 468 milyar butir bom nuklir Hiroshima yang diledakkan secara serempak. Dibandingkan dengan energi tumbukan asteroid raksasa yang menghantam Semenanjung Yucatan 65 juta tahun silam dan menjadi faktor utama penyebab musnahnya 75 % makhluk hidup Bumi (termasuk dinosaurus), banjir lava basaltik Venus adalah 93 kali lipat lebih energetik.

    Beberapa dari gunung berapi perisai di Venus, yang dikenal sebagai kubah telur dadar (pancake dome)


    Sebagai akibatnya, banjir lava basaltik Venus merubah permukaan Venus secara amat dramatis. 80 % wajah venus merupakan daratan lava dengan 72 % diantaranya dihasilkan oleh episode banjir lava basaltik Venus. Banjir lava tersebut juga sekaligus membentuk gunung-gunung berapi raksasa yang bertipe gunung berapi perisai (shield). Di Bumi jenis gunung berapi perisai ini hanya dijumpai di sudut-sudut tertentu seperti misalnya Kepulauan Hawaii (AS). Gunung-gunung berapi tersebut tergolong rendah, dengan tinggi hanya 2 hingga 4 km, namun sangat lebar yakni antara 150 hingga 400 km. Di antara ribuan gunung berapi perisai di venus, sekitar 80 diantaranya memiliki kawah sangat lebar di puncaknya (kaldera). Kaldera tersebut bahkan bisa bergaris tengah 60 km.

    Maat Mons, gunung berapi tertinggi di Venus dengan puncak berhias kubah lava raksasa.

    2. GUNUNG BERAPI DI MARS


    Mars punya masa lalu yang mengerikan. Planet keempat dalam sistem tata surya itu kerap diguncang letusan gunung api super. Erupsi gunung-gunung api tersebut sangat masif, dengan memuntahkan sedikitnya satu juta meter kubik material vulkanis dan lelehan bebatuan. Erupsi-erupsi itu diperkirakan mengubah karakter permukaan Planet Merah menjadi seperti sekarang.
    Para peneliti mengambil data dan gambar dari wahana Mars Express and Global Surveyor yang memantau situasi di sebuah wilayah di sisi utara Mars, yang dinamakan Arabia Terra. Di wilayah ini terlihat jejak letusan-letusan dahsyat dan reruntuhan bebatuan.

    Arabian terra


    Letusan gunung api super bisa jadi memperjelas asumsi tentang apa yang terjadi di permukaan Mars. Para peneliti sebelumnya menduga material dan permukaan Mars terbentuk dari letusan gunung api super, meski hingga saat ini keberadaannya belum bisa dikenali. Eden Patera, cekungan selebar 85 kilometer dengan kedalaman 1,8 kilometer, diduga merupakan bekas letusan tersebut.

    Eden Patera


    Persebaran aktivitas gunung api super juga membantu peneliti menentukan bahwa pernah ada kehidupan di Mars. “Aktivitas vulkanis menghubungkan hampir setiap aspek dalam evolusi geologi di Mars,” kata Joseph Michalski, peneliti Mars di Museum Sejarah Nasional London, seperti dikutip situs Live Science, Kamis, 3 Oktober 2013. “Semakin banyak kita paham tentang aktivitas vulkanis di Mars, makin baik kita tahu tentang planet itu.”
    Michalski mengatakan, aktivitas vulkanik ini terlihat berbeda dengan apa yang sudah diketahui dan pernah ada di Mars. “Kami belum tahu usia pastinya, tapi yang jelas sangat tua, mungkin terjadi pada satu miliar tahun pertama dalam sejarah planet itu,” kata Michalski.
    Kontur Arabia Terra mirip dengan Taman Nasional Yellowstone, Amerika Serikat. Dalam jurnal Nature disebutkan, terjadi beberapa letusan super dalam 18 juta tahun terakhir di Yellowstone.

    Yellowstone National park


    Letusan terkini terjadi pada 640 ribu tahun lalu, dengan kekuatan seribu kali lipat erupsi Gunung Helen di negara bagian Washington pada 1980. Abu dari letusan Helen menyebar luas, mulai dari California hingga Lowa dan Kanada hingga Teluk Meksiko.
    Mars sendiri diketahui punya rangkaian gunung api yang usianya lebih muda dan mirip dengan gunung api yang ada di Hawaii. Olympus Mon adalah gunung api terbesar yang aktif di Mars, dan ukurannya 100 kali lipat gunung api Mauna Loa di Hawaii.

    Olympus mons

    3. GUNUNG BERAPI DI IO


    Amukan gunung berapi seukuran Letusan Krakatau 1883 tentu menggetarkan dan menakutkan segenap manusia. Termasuk di masa kini. Nah bagaimana jika kita berhadapan dengan tak hanya satu, melainkan tiga letusan yang skala kedahsyatannya menyamai atau bahkan malah melebihi Letusan Krakatau 1883?

    Gambar 3. Tiga letusan mirip Letusan Krakatau 1883 di Io sepanjang 15 hingga 29 Agustus 2013. Kiri: letusan Rarog Patera, diobservasi teleskop Keck II pada panjang gelombang 1,59 mikron. Tengah: letusan Rarog Patera dan Heno Patera, diobservasi teleskop Keck II pada panjang gelombang 2,27 mikron. Dan kanan: letusan 201308C dan Rarog Patera, diobservasi teleskop IRTF NASA pada panjang gelombang 3,78 mikron. Nampak bahwa letusan 201308C adalah yang terbesar, diikuti letusan Rarog Patera dan kemudian Heno Patera. Saat 201308C meletus dahsyat, letusan di Rarog Patera dan Heno Patera sudah berakhir. Sumber: NASA & Keck II Observatory, 2014.
    Gambar 3. Tiga letusan mirip Letusan Krakatau 1883 di Io sepanjang 15 hingga 29 Agustus 2013. Kiri: letusan Rarog Patera, diobservasi teleskop Keck II pada panjang gelombang 1,59 mikron. Tengah: letusan Rarog Patera dan Heno Patera, diobservasi teleskop Keck II pada panjang gelombang 2,27 mikron. Dan kanan: letusan 201308C dan Rarog Patera, diobservasi teleskop IRTF NASA pada panjang gelombang 3,78 mikron. Nampak bahwa letusan 201308C adalah yang terbesar, diikuti letusan Rarog Patera dan kemudian Heno Patera. Saat 201308C meletus dahsyat, letusan di Rarog Patera dan Heno Patera sudah berakhir. Sumber: NASA & Keck II Observatory, 2014.
    Ini bukan kabar burung. Trio letusan mirip Krakatau itu memang benar-benar terjadi. Namun jangan buru-buru cemas dan memacu adrenalin anda. Trio letusan tersebut mengambil lokasi yang sangat jauh dari Bumi, yakni pada sebuah benda langit lain yang ukurannya hanya sedikit lebih besar dibanding Bulan. Trio letusan itu terjadi di Io yang adalah salah satu satelit alamiah dari planet Jupiter. Demikian dahsyat ketiga letusan itu sehingga kilatan cahayanya dapat disaksikan dari Bumi, meski hanya dapat disaksikan lewat fasilitas teleskop tercanggih. Adalah tiga teleskop berpangkalan di puncak Gunung Mauna Kea, Kepulauan Hawaii (Amerika Serikat), yang merekam ketiga letusan tersebut. Ketiganya adalah teleskop Gemini North, Keck II dan IRTF (Infra Red Telecope Facility) NASA. Ketiga letusan terekam dalam rentang waktu antara 15 dan 29 Agustus 2013, saat Io berjarak 865 juta kilometer dari Bumi.
    Dua letusan pertama terdeteksi oleh teleskop Keck II (diameter cermin 10 meter) saat diarahkan ke Io pada 15 Agustus 2013 pukul 22:30 WIB. Bekerja pada spektrum sinar inframerah dan dilengkapi sistem optik adaptif untuk mengoreksi gangguan optis akibat turbulensi dalam atmosfer Bumi, teleskop Keck II merekam dua titik berpendar terang di permukaan Io yang tak pernah ada sebelumnya. Titik pendar pertama berimpit dengan posisi Gunung Rarog Patera yang telah dikenal sebelumnya. Sementara titik letusan kedua bertepatan dengan Gunung Heno Patera, yang juga telah dikenali sebelumnya. Dan letusan terakhir terdeteksi dua minggu kemudian, yakni pada 29 Agustus 2013, lewat teleskop Gemini North dan IRTF NASA. Letusan ini terjadi di lokasi yang tak dikenal dan untuk sementara diberi kode sebagai 201308C.
    Observasi lanjutan menunjukkan bahwa ketiganya merupakan erupsi eksplosif gunung berapi Io yang khas. Letusan Rarog Patera mengeluarkan lava sepanas hingga sekitar 750 derajat Celcius. Pada puncak letusannya ia melepaskan daya hingga 8 terawatt (8 juta megawatt). Lava lantas membanjir menutupi area seluas hingga 120 kilometer persegi disekeliling lubang letusan. Sementara letusan Heno Patera menyemburkan lava yang sedikit lebih dingin yakni 700 derajat Celcius sehingga daya puncaknya pun sedikit lebih rendah yakni 5 hingga 6 terawatt (5 juta hingga 6 juta megawatt). Namun letusan Heno Patera memuntahkan lava yang menutupi kawasan dua kali lipat lebih luas yakni 300 kilometer persegi. Dan letusan 201308C adalah yang terdahsyat. Pada puncaknya ia melepaskan daya antara 15 hingga 25 terawatt (15 juta hingga 25 juta megawatt) dengan lava panasnya hingga sepanas 1.600 derajat Celcius atau bahkan lebih.

    Gambar 4. Peta permukaan Io berdasar citra komposit Voyager 1, Voyager 2 dan Galileo. Nampak lokasi Rarog Patera, Heno Patera dan 201308C, tiga gunung berapi yang terlibat dalam trio letusan besar Agustus 2013. Terlihat juga lokasi Gunung Loki dengan kalderanya yang terbesar di Io. Juga Gunung Pele, gunung berapi luar Bumi yang pertama kali terdeteksi. Sumber: Sudibyo 2014 dengan peta dasar USGS Astrogeology, 2014.
    Gambar 4. Peta permukaan Io berdasar citra komposit Voyager 1, Voyager 2 dan Galileo. Nampak lokasi Rarog Patera, Heno Patera dan 201308C, tiga gunung berapi yang terlibat dalam trio letusan besar Agustus 2013. Terlihat juga lokasi Gunung Loki dengan kalderanya yang terbesar di Io. Juga Gunung Pele, gunung berapi luar Bumi yang pertama kali terdeteksi. Sumber: Sudibyo 2014 dengan peta dasar USGS Astrogeology, 2014.
    Analisis lebih lanjut memperlihatkan trio letusan ini merupakan letusan besar karena memuntahkan magma dalam jumlah sangat banyak. Jumlah magma yang disemburkan letusan Rarog Patera dan Heno Patera berkisar antara 50.000 hingga 100.000 meter kubik per detik. Sebaliknya berapa magma yang dikeluarkan letusan 201308C belum jelas, namun dapat diduga jauh lebih besar ketimbang Rarog dan Heno Patera. Bandingkan dengan Letusan Krakatau 1883 di Bumi, yang pada puncak letusannya menghamburkan magma sebanyak hanya 20.400 meter kubik per detik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kecepatan pengeluaran magma Rarog Patera dan Heno Patera adalah antara 2 hingga 4 kali lipat lebih tinggi ketimbang Krakatau. Namun tak demikian dengan dayanya, yakni jumlah energi yang dilepaskan dalam tiap satuan waktu. Jika suhu magma Krakatau 1883 dianggap 800 derajat Celcius, maka daya sebesar 14 terawatt terlepas dalam puncak letusannya. Ini lebih besar ketimbang daya letusan Rarog maupun Heno Patera, namun masih lebih kecil dibanding letusan 201308C.
    Io adalah benda langit yang sedikit lebih besar dari Bulan (diameter Io=3.628 km dan diameter Bulan=3.474 km). Maka dari itu gravitasinya pun cukup kecil yakni 5,5 kali lebih kecil ketimbang Bumi. Saat terjadi letusan sedahsyat Letusan Krakatau 1883 di Io, gravitasi kecilnya membuat material letusan sanggup tersembur hingga mencapai ketinggian beratus-ratus kilometer. Bandingkan dengan Bumi, dimana letusan gunung berapi terdahsyat sekalipun takkan sanggup menyemburkan debu vulkaniknya hingga melampaui ketinggian 100 km. Debu vulkanik gunung-gemunung berapi di Io bahkan sanggup melesat keluar dari lingkungan pengaruh satelit alamiah Jupiter itu dan lantas berubah haluan menjadi debu bermuatan listrik mengelilingi Jupiter sebagai plasma. Observasi dengan satelit HISAKI milik Jepang, yang dirancang khusus untuk mengamati plasma yang mengedari Jupiter dari kejauhan orbit Bumi, berhasil mendeteksi meningkatnya jumlah debu bermuatan listrik dalam lingkungan plasma tersebut setelah trio letusan ini terjadi.

    Info terkait:

    • yel yel kelompok 8
    • cara menggambar gunung meletus
    • foto korban bom sharina
    • yel yel 17 agustus
    • letusan gunung terdahsyat di tata surya
    • kumpulan yel yel kelompok
    • yel yel pmr terbaik
    • yel yel nyindir
    • cara menggambar Gunung Berapi
    • yel yel bahasa inggris untuk kelompok