TOP 5 barang UNIK dan tidak biasa yang diperjualbelikan INDONESIA sepanjang 2016!

  • admin
  • 31/12/2016
  • Merdeka.com – Sepanjang 2016, di tengah perlambatan ekonomi dunia, Indonesia masih mencatatkan nilai ekspor cukup signifikan ke beberapa negara. Ini disebabkan Indonesia memiliki banyak produk ekspor yang menjadi primadona negara lain mulai dari rempah, kopi, kerajinan tangan sampai migas.

    Menurut Deputi Bidang Statistik, Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Sasmito Hadi Wibowo, secara kumulatif atau Januari-November, nilai ekspor total USD 130,65 miliar atau menurun 5,65 persen dibanding periode yang sama 2015. Demikian juga ekspor nonmigas mencapai USD 118,80 miliar atau menurun 1,96 persen.

    Sementara itu, nilai impor dari Januari sampai November mengalami penurunan 5,94 persen menjadi USD 122,86 miliar dibandingkan periode yang sama pada 2015. “Untuk kumulatif nilai impor terdiri dari impor migas USD 17,07 miliar turun 25,17 persen pada periode yang sama dan nonmigas juga turun sebesar 1,87 persen menjadi USD 105,79 miliar.” ujar Sasmito.

    Dalam pencapaian ini, terdapat sejulah catatan menarik. Di mana ternyata Indonesia memperdagangkan sejumlah barang atau komoditas unik dan tak biasa.

    Apa saja barang-barang unik yang keluar dan masuk Indonesia sepanjang 2016? Berikut merdeka.com akan merangkumnya untuk pembaca.

    1.Kereta bekas

    Merdeka.com – Indonesia melalui PT Kereta Api Indonesia akan membantu operasional kereta di Myanmar dengan mengirimkan gerbong kereta yang sudah tua namun masih laik digunakan.

    Direktur Logistik dan Pengembangan PT KAI Budi Noviantoro mengatakan saat ini moda transportasi kereta api di Myanmar belum berkembang dengan baik. Di mana, kecepatan kereta di Myanmar rata-rata adalah 30 kilometer per jam.

    “Indonesia memiliki sekitar 600 gerbong kereta yang sudah berusia lebih dari 20 tahun. Ini yang akan kami kirimkan ke Myanmar untuk membantu kereta api di sana,” kata Budi ditulis Antara.

    Budi menjelaskan, nantinya perusahaan akan melakukan rekondisi terlebih dulu terhadap gerbong yang akan dikirim agar bisa digunakan secara laik. Dengan bantuan tersebut, dia berharap kecepatan kereta di Myanmar bisa ditingkatkan 100 persen menjadi sekitar 60 kilometer per jam.

    Bantuan ke Myanmar tersebut merupakan salah satu hasil jangka pendek dari pertemuan perusahaan operator kereta di Asia Tenggara (ARCEO) yang rutin digelar setiap tahun.

    Konferensi yang diikuti perusahaan operator kereta di Asia Tenggara tersebut dilakukan untuk membahas berbagai hal di antaranya adalah tantangan, kesempatan dan potensi kerja sama antar perusahaan operator kereta api di ASEAN.

    2.Minyak oles

    Merdeka.com – Minyak oles yang diproduksi oleh salah satu industri obat tradisional, PT Karya Pak Oles Tokcer Bali yakni Minyak Oles Bokashi (MOB) berhasil masuk pasar ekspor.

    Direktur Utama PT Karya Pak Oles, Gede Ngurah Wididana mengatakan, seorang konsumen yang juga direktur perusahaan Effective Migroorganisme (EM) dari Rusia sempat datang ke Bali membeli 500 dus, masing- masing dus berisi 24 biji.

    Selain konsumen dari Rusia juga datang dari China, Hongkong, India, Korea Selatan, Laos, Malaysia, Selandia Baru, Pakistan, Singapura, Srilanka, Thailand dan Vietnam.

    Gede Ngurah Wididana menjelaskan, pihaknya memproduksi minyak oles bhokasi tersebut mulai 1998, berawal dari menemukan sebuah formula ekstrak minyak tanaman obat yang difermentasi dengan teknologi EM.

    Wididana kemudian memberi nama produk itu dengan sebutan Minyak Oles Bokashi. Berkat kemampuannya melihat dan membaca trend pasar, produk Minyak Oles Bokashi sangat disukai berbagai lapisan masyarakat luas.

    “Minyak Oles Bokashi kami pasarkan secara bertahap sesuai dengan kemampuan sumber daya yang dimiliki. Melihat prospek yang begitu cerah kini lalu diproduksi secara berkesinambungan,” ujar Wididana seperti ditulis Antara, Denpasar.

    3.Arang kayu

    Merdeka.com – Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Jeddah menyatakan bahwa perusahaan asal Indonesia melakukan ekspor produk arang kayu senilai Rp 2,67 miliar atau kurang lebih sebesar USD 197.808.

    Transaksi tersebut didapat setelah importir Arab Saudi, Hassan Saeed Al Zahrani melakukan kunjungan ke CV Promosia Dagang Asia di Surabaya. Kunjungan tersebut sebagai tindak lanjut dari business meeting yang difasilitasi ITPC Jeddah pada 16 Mei 2016 silam.

    “CV Promosia merupakan salah satu produsen arang kayu yang aktif mengikuti pameran-pameran yang digagas oleh ITPC Jeddah. CV Promosia merupakan perusahaan Indonesia yang berlokasi di Surabaya yang telah lama memproduksi arang kayu berstandar internasional,” kata Kepala ITPC Jeddah, Gunawan seperti ditulis Antara.

    Importir Arab Saudi mengadakan survei dan kunjungan lapangan untuk melihat fasilitas pabrik pengolahan arang kayu, tempat penyimpanan, dan pengepakan.

    Melihat proses produksi yang dikerjakan mengikuti standar internasional, pengusaha Arab Saudi tersebut langsung tertarik untuk mengimpor arang kayu CV Promosia Dagang Asia dengan pengiriman per bulan sebesar 40 Highcube (HC).

    Meskipun memiliki cadangan migas yang besar, masyarakat Arab Saudi sangat menghargai cita rasa makanan yang diolah dengan standar proses yang tinggi dan sangat menghindari sisa pembakaran dari bahan bakar yang berasal dari fosil.

    Oleh karena, itu makanan khas di daerah jazirah Arab seperti nasi kebuli, nasi bukhori, nasi briani, dan nasi mandi lebih banyak diolah dengan menggunakan pembakaran dari arang kayu.

    Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah berupaya untuk melakukan sosialisasi peningkatan ekspor nonmigas termasuk arang kayu.

    “KJRI Jeddah sangat mendukung upaya-upaya yang dilakukan oleh ITPC dan Fungsi Ekonomi Jeddah dalam memfasilitasi pengusaha Indonesia untuk lebih aktif melihat pasar Arab Saudi yang besar dan terbuka lebar,” tambah Plt Konjen RI Jeddah, Dicky Yunus.

    4.Kaki kodok

    Merdeka.com – Komoditas daging kodok asal Indonesia tetap laris manis di pasar dunia. Meski saat ini terjadi krisis ekonomi dunia, daging kodok tetap eksis di hati konsumen luar negeri.

    Hal ini terlihat dari capaian ekspor paha kodok Sumatera Utara ke Belgia yang nilai ekspornya tahun ini naik 8,37 persen menjadi USD 1,178 juta.

    “Nilai ekspor paha kodok Sumut ke Belgia pada Januari-Agustus berasal dari pengiriman sebanyak 218,6 ton,” kata staf bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumut, Fitra Kurnia, seperti dilansir Antara.

    Paha kodok (Swike), menurutnya, termasuk salah satu golongan barang andalan ekspor Sumut. Meski terjadi pengurangan negara tujuan ekspor namun nilai komoditi ini tetap tinggi.

    “Sebelumnya negara ekspor sampai ke beberapa negara lain termasuk Singapura, dan China,” tuturnya.

    Pasokan kodok untuk diekspor semakin ketat karena faktor alam dan banyaknya permintaan di dalam negeri.

    Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Sumut, Sofyan Subang, mengatakan ekspor paha kodok itu sering terganggu dengan faktor alam.

    Pesatnya perkembangan pembangunan telah mengganggu ekosistem sehingga kodok dengan jenis tertentu yang biasanya untuk ekspor semakin sulit diperoleh.

    Volume ekspor paha kodok semakin terganggu karena konsumsi di dalam negeri seperti di Sumut juga naik menyusul banyaknya restoran besar dan kecil yang menyajikan menu paha kodok itu.

    Sebagai informasi, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), tahun lalu saja Tanah Air telah mengekspor 3.563 ton swike dan menghasilkan uang senilai USD 18,49 juta ( Rp 175 miliar). Hingga April lalu, ekspor swike berada pada 982,6 tondengan nilai jual USD 5,3 juta (Rp 50,35 miliar).

    Di antaranya, swike tersebut diekspor ke pasar negara Eropa, AS, Hong Kong, Singapura, dan Jepang. Di samping itu, peluang pasar domestik pun tidak kalah banyak. Hal tersebut mengingat kegemaran pasar lokal untuk mengonsumsi swike dengan diolah menjadi swike goreng tepung, pepes sampai diolah menjadi kerupuk kulit.

    Potensi pasar swike ini memang luar biasa. Bahkan, di tahun 1974 hingga 1978 Indonesia pernah menjadi pengekspor swike ketiga terbesar setelah India dan Bangladesh. Bahkan pada tahun 1979, Nusantara menjadi pemasok swike kedua terbesar di Uni Eropa yaitu sebesar 34 persen.

    Namun, pada tahun 1985, ketiga negara pengekspor swike terbesar dunia dilarang menangkap kodok yang berada di alam. Setelah itu, muncullah ide untuk budidaya katak. Disisi lain, kodok asli Indonesia memang susah dibudidaya. Lalu Indonesia berinisiatif untuk mendatangkan jenis kodok asal Amerika Utara dari Taiwan yaitu yang disebut dengan kodok lembu atau bullfrog.

    5.Mata cangkul

    Merdeka.com – Selain beberapa produk ekspor unik tersebut, Indonesia juga tercatat melakukan impor cangkul dari China. Hal ini sempat memicu perdebatan dari berbagai kalangan. Di mana sebagai negara yang telah lama berkecimpung di dunia pertanian ternyata masih harus melakukan impor cangkul. Alat bertani sederhana, seharusnya bisa dipenuhi kebutuhannya oleh perajin dalam negeri.

    Namun, pemerintah menganggap logikanya tak sesederhana itu. Kebutuhan cangkul nasional dikalkulasi mencapai 10 juta per tahun. Sementara produksi nasional, meski tak ada angka pasti, namun dinilai masih jauh di bawah itu.

    Untuk menutupi kekurangan pasokan, pemerintah kemudian menugaskan Badan Usaha Milik Negara untuk mengimpor cangkul. Ini berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No 230 tahun 1997 tentang Barang yang Diatur Tata Niaga Impornya. Di mana, tugas mengimpor cangkul hanya diberikan kepada tiga perusahaan pelat merah.

    Ketiga perusahaan tersebut adalah PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI), PT Sarinah, dan PT Mega Eltra. Perusahaan yang disebut terakhir bergerak di bidang perdagangan umum, merupakan anak usaha dari PT Pupuk Indonesia.

    Kementerian Perdagangan telah memberikan izin kepada PT PPI untuk mengimpor 1,5 juta kepala cangkul, berlaku Juni hingga Desember 2016. Realisasi impornya baru sebesar 86.190 kepala cangkul atau 5,7 persen. Sedangkan Sarinah dikabarkan juga mendapat izin impor 500.000 kepala cangkul.

    Hujan kritik dari publik memaksa pemerintah untuk menghentikan impor cangkul. Sebagai gantinya, pemerintah menugaskan PT Krakatau Steel, PT Boma Bisma Indra, dan PT PPI untuk berkolaborasi memenuhi kebutuhan cangkul nasional. Belakangan, PT Sarinah masuk untuk memerkuat formasi tersebut.

    “Penugasan ini tujuannya untuk meniadakan impor,” kata Rahman Sadikin, Direktur Keuangan dan Sumber Daya Manusia PT Boma Bisma Indra, beberapa waktu lalu.

    Boma Bisma Indra memiliki kemampuan memproduksi 700.000 cangkul per tahun. Kepala cangkulnya pun berkualitas baik dan memiliki lisensi dari Jerman.

    “Tapi kami kan dari awal tutup (operasi) karena masuknya barang-barang gelap atau ilegal.” ujar Rahman.

    Rahman menguraikan, Keempat perusahaan pelat merah bakal membentuk tata niaga cangkul yang bisa mengakomodasi industri nasional, menengah, dan kecil. Urutannya diawali oleh Krakatau Steel yang akan memasok baja karbon tinggi atau high carbon steel ke pabrik di Pasuruan, Jawa Timur, milik Boma Bisma Indra.

    Selanjutnya, Boma Bisma Indra bakal mengolah bahan baku tersebut menjadi barang hampir jadi. Setelah itu, PPI dan Sarinah bertugas mendistribusikan barang hampir jadi tersebut ke industri besar, menengah, dan kecil untuk diolah kembali menjadi barang siap pakai.

    “Sekarang sedang dibuatkan contoh-contohnya. Jadi kemarin kami sudah rapat maraton.” kata Rahman.

    Rahman menargetkan, pada tahap awal, produksi cangkul bisa mencapai 700.000 unit. Diperkirakan bisa meningkat hingga 2 juta unit per tahun secepatnya.

    Info terkait:

    • membuat cangkul dari sterofoam
    • berita sepak bola bahasa jawa
    • skenario rapat untuk lima orang
    • tulisan grafiti nama rahman